Sep 4, 2017

Tak Ada Pesta di Mykonos





Pulau Mykonos, yang ketenarannya hampir menyamai Santorini, dikenal sebagai pulau pesta. Banyak orang datang ke sana untuk berlibur sambil clubbing sepuasnya. Walaupun ide kami berpesta adalah kemulan dalam selimut sambil makan makanan delivery dan menonton film di rumah, kali ini saya dan Diyan berniat untuk clubbing di Mykonos. Sekadar penasaran dengan hype-nya. Rencana kami pergi ke klab Paradise, yang sepertinya paling terkenal di seluruh pulau. Tapi, kami sisakan rencana itu untuk hari terakhir di sana.

Hari pertama kami sampai di Mykonos sudah cukup siang. Sesudah check in di Myconian Inn, sisa hari kami habiskan dengan menyusuri gang-gang sempit yang berliku, melewati pertokoan rapat, berakhir di deretan kafe tepi pantai. Di ujung teluk, beberapa feri merapat, sebagian mengangkut penumpang menuju Pulau Delos. Cuaca hari itu cukup hangat, kabar baik bagi radang tenggorokan saya. Dan akhirnya saya bisa jalan-jalan tanpa jaket.

Aug 24, 2017

Cerita di Balik Rawa Pening dan Jamu Sido Muncul

Beberapa bulan yang lalu, teman-teman saya piknik bareng ke Rawa Pening. Saya melihat foto-foto mereka di situ, tak menyangka ada danau indah di Kabupaten Semarang. Tapi, setelah saya baca-baca cerita mereka di kemudian hari, ternyata Rawa Pening ini bermasalah.

Rawa Pening dari kacamata teman saya, Rere


Hari Senin kemarin, saya diajak teman menghadiri acara Festival Prestasi Indonesia 2017 di Plenary Hall, JCC, Jakarta. Ajakannya cukup mendadak, tapi untungnya saya bisa sampai ke sana beberapa menit sebelum acara dimulai. Ruangan besar ini diisi deretan booth berbagai merek, berbaris-baris kursi di bagian tengah, panggung di paling ujung, dan lautan banyak manusia. Ada apa ini sebenarnya?

Aug 21, 2017

Sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo yang Seru Banget!



Sudah berkali-kali ke DI Yogyakarta sejak kecil, saya belum juga bosan dengan provinsi ini. selalu ada saja hal baru bagi saya, yang menarik untuk dicoba, dilihat, atau dicicipi. Di bulan Juli lalu, saya dan Diyan ke Yogyakarta dengan tujuan utama menghadiri resepsi pernikahan teman.

Tapi tentunya lebih banyak jalan-jalannya, dong!

Di sini saya akan cerita tentang salah satu saja aktivitas kami di Yogyakarta waktu itu.

***

Dimulai dengan niat berangkat jam 5 pagi, kami molor jadi berangkat jam 5.10. Lumayanlah, ya, cuma telat 10 menit. Untuk standar Indonesia, itu nggak telat!

Jadi, ngapain berangkat pagi-pagi amat?

MAU MAIN SANDBOARDING DI GUMUK PASIR PARANGKUSUMO!

Horeee!

Kegiatan ini sudah beken mungkin sejak 1-2 tahun yang lalu. Beberapa teman saya juga sudah mencobanya. Akhirnya saya pun punya kesempatan mencoba!

Jul 21, 2017

The Sun Has Set for Chester Bennington




13 November, 2007.

Siang hari, pesawat yang saya dan teman-teman kantor tumpangi melandas di Changi International Airport, Singapura. Bergegas kami melalu meja imigrasi, lalu menyewa taksi ke Hotel Peninsula Excelsior. Check-in, lalu kami menyimpan tas di kamar hotel. Hanya berselang sekitar 2 jam kemudian saya dan 3 teman, Indri, Lena, dan Martin, menuju Singapore Indoor Stadium dengan bukti pembelian tiket konser Linkin Park.

Saya gembira sekali waktu itu. Memang, saya agak telat menggemari Linkin Park. Ketika di tahun 2004 teman-teman saya seru nonton konser mereka di Jakarta, saya belum menyukai band asal California ini. Saya nggak ingat bagaimana kemudian saya jadi menyukai dan memasukkan lagu-lagu mereka ke playlist saya. Yang saya ingat, vokal Chester adalah salah satu magnet Linkin Park bagi saya. Maka ketika ada trip konferensi di Singapura yang kebetulan dekat tanggalnya dengan konser Linkin Park di Singapura, saya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Harga tiket kelas festival waktu itu S$150, dengan kurs yang masih jauh lebih murah dari sekarang, tapi tetap cukup mahal bagi saya.

Jul 9, 2017

Bermain di Chiang Rai, Kota Paling Utara Thailand

Pas buka folder lama, baru sadar perjalanan ini belum pernah diceritakan di blog.
Some things have changed, but the memory remains. 


“Yeay! Kita ke Chiang Mai! Mau ke White Temple!” saya dan Mumun bersorak gembira.
“White Temple? Itu, kan, adanya di Chiang Rai,” sanggah Abud, teman kami waktu itu.
“Hah? Di Chiang Mai!” saya ngotot.
“Di Chiang Rai! Coba cek, deh!”
Lalu saya mencarinya di Google, dan Mumun ikut mengintip.

Oh.

“Oke! Kalau begitu kita ke Chiang Rai!” saya dan Mumun kembali bersorak gembira.

Jadi, begitulah awalnya kenapa kami, beserta Vindhya dan Uci, ke Chiang Rai, dalam rangkaian perjalanan Laos-Thailand di bulan April, 2012. Saya sendiri tak punya harapan tertentu tentang kota yang hanya satu jam perjalanan dari Chiang Mai ini. Kebanyakan informasi tentang Chiang Rai justru kami dapatkan dari pemilik guesthouse, setelah kami check-in. Dia juga yang mencarikan mobil serta supirnya untuk mengantarkan kami ke tempat-tempat wisata di Provinsi Chiang Rai, yang masih di sekitar kota Chiang Rai. Ternyata, White Temple bukan satu-satunya hal menarik di provinsi paling utara Thailand ini. Masih ada pasar malam, Black House, The Golden Triangle, dan Museum of Opium.

Jul 1, 2017

Berawal dari Catacomb, Berakhir di Sarakiniko


Pulau Milos merupakan pilihan Diyan dalam rangkaian perjalanan kami di Yunani. Alasan ia memilih Milos adalah karena adanya Catacomb, yaitu kompleks kuburan di dalam gua buatan manusia, yang sudah berumur 15 abad lebih. Dalam 3 hari 2 malam di Milos, hanya sekitar 1 jam kami habiskan di Catacomb. Sisanya, selain bermain di Plaka, kami lebih banyak mengunjungi tempat-tempat yang berada di pinggir laut: pantai Sarakiniko, desa nelayan Pollonia dan Klima, serta kota pelabuhan Adamantas.




ADAMANTAS / ADAMAS

Pintu besar Zante Ferry perlahan turun. Saya dan Diyan berada di antara para penumpang, tak sabar untuk menjejakkan kaki di pulau Milos, pulau kedua yang kami datangi di Kepulauan Kyklades. Langit biru elektrik dan jajaran bangunan putih-biru menyambut, dan kami segera menemui John dan Andreas, host Airbnb yang telah menunggu dengan mobil mereka di pelabuhan.

Kota pelabuhan ini bernama Adamantas, atau sering juga disebut Adamas, terletak di teluk bagian tengah pulau Milos. Saat itu penghujung musim semi, belum banyak turis yang datang. Suasana Adamantas cenderung sepi dan kalem untuk standar sebuah pelabuhan yang biasanya saya tahu. Jauh lebih sepi dibandingkan pelabuhan di Fira, Santorini, yang merupakan bintang pariwisata Yunani.

Selama di Milos, dua kali kami bersantap sore di Adamantas. Dua-duanya di meja luar dan menghadap ke laut, tapi di dua taverna yang berbeda. Makanan yang kami coba acak saja, dari kentang sampai kerang yang segar. Ouzo, minuman keras khas Yunani, juga kami coba. Warnanya bening seperti air putih, sampai kami memesannya dua kali

Jun 22, 2017

Sebentuk Kehangatan di Plaka, Milos



Deretan meja kursi berwarna-warni berjemur di luar bangunan berdinding putih. Pintu dan jendela tertutup rapat. Tampaknya taverna ini masih tutup walaupun kala itu sudah hampir tengah hari. Hanya seekor kucing makhluk hidup yang tampak di antara kursi-kursi, sibuk menjilat badannya sendiri dengan mata terpicing. Kami berjalan lagi menyusuri gang, sampai ke bangunan yang di luarnya terdapat meja kursi dan pintu yang juga tertutup rapat.

“Sudah buka, belum, ya?” saya bertanya setengah berharap.

Sekelebat bayangan orang terlihat di balik pintu bagian dalam taverna. “Tuh, sudah ada orangnya. Kita duduk aja,” sahut Diyan tanpa beranjak dari tempat ia berdiri.

Kalimera!” sapa seorang pria berkepala plontos di bagian atas, berperut tambun, bermata tajam, yang tiba-tiba saja keluar dari pintu di hadapan kami sambil membawa selembar kertas besar di tangannya.