Oct 6, 2016

Vira Berlibur di Fira, Santorini

Saya terkejut senang ketika mulai mencari tahu tentang Pulau Santorini dan menemukan bahwa nama ibukotanya adalah Fira. Nama ini seperti ejaan yang salah tapi berlafal sama dengan nama saya. Sebenarnya ini nggak berpengaruh ke apapun, saya cuma senang saja karena seolah-olah nama saya terabadikan di pulau impian. Kadang-kadang Fira juga disebut Thira, yaitu nama area ini dari masa kuno.



Letak Fira di tengah-tengah Pulau Santorini, sisi barat. Menuju ke sana, kami berlayar selama 7 jam dari pelabuhan Piraeus, Athena. Dari pelabuhan Old Port menuju ke Fira sebenarnya cuma sekitar 1,3 km, tapi dibutuhkan stamina dan keinginan kuat karena jalanannya menanjak. Kami sendiri naik mobil travel ke Oia karena jadwal menginap di Fira justru di hari-hari terakhir kami di Santorini.

Menginap 2 hari 2 malam di Fira, cukup banyak tempat wisata yang sempat kami kunjungi di sekitar kota dengan bermodalkan motor sewaan, selain berjalan-jalan dengan kaki di pusat keramaian kotanya.

Vira di Fira.


Kota Fira, Santorini


Kota Fira memiliki kontur naik turun dan banyak tangga di gang-gang sempit seperti umumnya gambaran tentang Yunani. Beragam kafe, restoran, toko, tempat spa, dan suatu gereja besar berkumpul di pusat kota Fira, bertepikan kaldera dan pemandangan laut biru tua yang tenang. Kami berjalan kaki menjelajahi pusat kota di antara turis-turis dari belahan dunia lain, bahkan ada pula keluarga kecil dari Indonesia dengan bayinya di stroller. Terbayang repotnya menggotong-gotong stroller setiap bertemu tangga, tapi semoga si bayi mendapatkan ingatan yang menyenangkan akan Fira.

Lelah berjalan kaki, kami duduk sebentar di salah satu bangku yang menghadap kaldera. Bangku-bangku ini jadi rebutan bagi para turis karena pemandangan iconic yang ditawarkan. Kami pun baru mendapatkan tempat di bangku ini setelah menunggu sekawanan turis Asia lainnya kelar berfoto ria di situ. Ketika melintas di depan gereja untuk menuju bangku ini, tak sengaja saya mendengar percakapan seorang pria dengan dua orang perempuan. Pria ini, yang tampaknya hampir setengah baya, membangga-banggakan pengalamannya backpacking keliling dunia, dan bagaiman pengalaman itu sangat membuka pikirannya tentang banyak hal. Agak geli mendengarnya karena terkesan sangat klise, tapi itu persis cerita yang sering saya baca di blog-blog perjalanan, dan mungkin saya pun pernah menulis demikian.

Menjelang magrib kami berjalan lagi dan menemukan lokasi yang diincar banyak orang untuk menikmati pemandangan sang surya tenggelam. Indah juga, walaupun tidak seindah sunset di Oia. Ketika hari sudah gelap, kota Fira masih ramai dengan turis, seperti kami yang berbelanja suvenir dan sekadar menikmati keindahan tata kotanya.

Tidak terlalu malam kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena radang tenggorokan saya yang mulai merongrong akibat terlalu lama diterpa angin malam.

Menggambar sejenak di sela-sela keliling kota Fira.

Diyan berusaha membaca 'Today's Special" dalam aksara Yunani.

Sunset di Fira.

Salah satu gang di Fira malam hari.



Akrotiri, Kota yang Terkubur di Santorini


Menikah dengan history freak seperti Diyan, saya pun ketularan makin menyenangi kunjungan bertema sejarah. Di pagi pertama di Fira, tujuan kami adalah Akrotiri, kota prasejarah yang terkubur abu letusan gunung Thera sejak abad ke-17 SM. Letusan megah ini pula yang membentuk kaldera dan serpihan pulau-pulau di Laut Aegea, termasuk Santorini.

Dari hotel, kami menuju Akrotiri naik motor sewaan, jaraknya sekitar 10 km. Akrotiri berada di ujung selatan Pulau Santorini. Perjalanan ke sana melewati jalan aspal mulus dan cenderung menurun. Saya puas memandangi bentang alam selama perjalanan, sedangkan Diyan harus memecah konsentrasi menyetir dengan sesekali mengintip pemandangan di kanan dan kiri. Sekali kali kami berhenti untuk benar-benar menikmati pemandangan, sambil foto-foto tentunya.

Ditiup angin yang lumayan kencang.
Pemandangan kaldera, menuju Akrotiri.


Sampai di gerbang masuk situs Akrotiri, setelah bayar tiket masuk sebesar 5 euro, kami ditawari jasa pemandu wisata. Tanpa pikir panjang kami mengiyakan, karena melihat-lihat peninggalan prasejarah akan lebih menarik dan bermakna jika disertai narasi tentang peninggalan itu sendiri. Untuk tiap seorang pemandu ditarik bayaran 60 euro, dengan jumlah turis maksimal 6 orang. Beberapa pengunjung berkomentar semacam, “Apa?? Mahal banget! Ogah ah!” lalu ngeluyur masuk ke situs. Untungnya nggak sampai 15 menit kemudian kelompok kami lengkap, dan tur keliling situs Akrotiri pun dimulai.

Situs Akrotiri sudah mulai digali dan diteliti sejak tahun 1967. Area galian seluas sekitar 20 hektar itu kini dinaungi atap dan dibangun jalan setapak untuk mengelilingi galian. Penelitian masih berlanjut, tapi penggalian terpaksa dihentikan dulu akibat krisis ekonomi di Yunani. Pemandu wisata kami adalah seorang arkeolog, jadi dia nggak cuma menjelaskan dari hapalan materi. Menyenangkan sekali, karena selain orangnya ramah, pertanyaan-pertanyaan dari kelompok kami pun bergulir menjadi diskusi dengan pria yang perawakan serta brewoknya tipikal patung Yunani ini.

Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa situs Akrotiri ini berawal dari desa petani dan nelayan (“akrotiri” artinya tanjung) yang mulai ada sejak milenia ke-5 SM, lambat laun berkembang menjadi kota yang maju. Lapis demi lapis bangunan ditemukan. Diperkirakan, bahwa selama beribu-ribu tahun, penduduk datang dan pergi (entah kenapa) dan membangun hunian baru di atas lapisan lama yang telah terkubur. Sampai akhir perkembangannya, kota ini telah dilengkapi dengan sistem drainase yang modern, jalanan beraspal, peninggalan gerabah dengan kualitas tinggi, dan macam-macam kerajinan lain yang menunjukkan teknologi maju. Sedangkan lukisan-lukisan dinding dari situs Akrotiri sudah diboyong ke berbagai museum. Dari berbagai artefak, disimpulkan juga bahwa penduduk Akrotiri dulu itu sudah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang dari Pulau Kreta, Mesir, Siria, dan lain-lain.

Dari sekian banyak temuan di situs Akrotiri, tak satupun ditemukan tulang belulang manusia. Dengan begitu, diperkirakan bahwa evakuasi sudah berjalan lancar sebelum akhirnya kota ini tertutup abu. Begitu ceritanya.

Gerabah di sela-sela reruntuhan kota Akrotiri yang terkubur.

Pengunjung mengamati kota Akrotiri dari lintasan yang mengitari.

Penggalian yang terhenti akibat krisis ekonomi.

Pengunjung yang puas.


Museum & Kilang Anggur G. Koutsoyannopoulos


Saya pribadi nggak punya ketertarikan khusus terhadap wine atau minuman anggur, kecuali botolnya. Saya memang sempat keranjingan botol bagus, tapi buat saya, rasa wine itu nggak enak. Namun saat tahu bahwa di Santorini ada banyak pertanian anggur dan museum wine, bolehlah kami mengintip-intip. Maka berkunjunglah kami ke G. Koutsoyannopoulos Winery & Wine Museum, yang kami pilih secara acak sekembali dari situs Akrotiri.

Kami membayar 8 euro per orang untuk tiket masuk sekaligus audio guide. Ini pertama kalinya kami menggunakan audio guide di museum. Lucu deh, menggunakannya seperti sedang pakai HT tapi komunikasi satu arah, dan semacam dibacakan dongeng.

Museum ini memang bekas kilang anggur sungguhan. Kami memasuki lorong bawah tanah yang dulu merupakan tempat penyimpanan gentong-gentong wine. Sekarang di lorong yang panjangnya sekitar 300 meter ini dibangun deretan diorama yang menceritakan tahap-tahap pembuatan wine dari hulu ke hilir, serta macam-macam peralatan yang digunakan. Tiap diorama diberi nomor, lalu kami pencet nomor yang sama di alat audio guide untuk mendengarkan penjelasan tentang diorama tersebut dalam 14 pilihan bahasa.

Lihat nomor diorama, pencet nomor yang sesuai untuk mendengarkan penjelasannya di audio guide.
Keledai ikut berperan dalam produksi wine di Santorini. 

Diorama yang disesuaikan dengan bukti sejarah pada foto.


Selesai menyusuri museum, kami kembali ke lobi dan mengembalikan alat audio guide. Di sana kami ditawari untuk menyicipi macam-macam wine produksi mereka tanpa bayaran tambahan. Salah satu wine mereka memenangkan kejuaraan dunia, dan itu yang Diyan paling suka dibandingkan yang lain. Saya sendiri nggak ingat apakah ada yang saya suka.

Museum dan kilang anggur ini milik keluarga Koutsoyannapoulos, yang sudah berdiri sejak tahun 1870. Saat itu, kakak beradik Grigorios dan Dimitrios Koutsoyannapoulos sedang berlayar dari Peloponnese ke Pulau Syros, namun terbawa angin kencang hingga mereka berlabuh saja di Santorini. Di situlah mereka melihat kesempatan berdagang wine, karena Santorini merupakan tempat transit kapal antara Mesir dan Kreta, serta punya banyak teluk yang aman untuk kapal bersandar. Kerja keras Grigorios dan Dimitrios diteruskan oleh keturunan mereka, sampa sekarang generasi ke-4 yang mengelola bisnis keluarga ini.

Sebelum ke Santorini, saya belum tahu bahwa di sana sejarah anggurnya sudah panjang. Sebelumnya saya cuma dengar tentang perkebunan dan kilang anggur di Prancis. Tapi kalau melihat bahwa Yunani punya Dewa Dionysus atau Dionisos, mestinya tak heran, karena dia adalah dewa anggur, kesuburan, teater, dan pesta.

Kalau mau tahu lebih banyak tentang museum & winery G. Koutsoyannapoulos  ini, buka aja websitenya, isinya lengkap banget. Dan ini sedikit cuplikan video saya dari dalam museum.

Eksterior winery dengan "diorama outdoor".

Macam-macam wine produksi Koutsoyannapoulos.

Kebun anggur di halaman winery.


Keledai Pemabuk


Seolah tak mau kalah dengan minuman-minuman yang lebih populer seantero Yunani, yaitu ouzo, raki, dan anggur, di Santorini juga ada brewery alias pabrik bir. Produksi bir di Santorini terhitung baru, dengan Volkan Beer sebagai yang pertama dan baru berdiri di tahun 2011. Tapi karena kami kebetulan menemukan informasi tentang Donkey brewery, ke sanalah kami melihat-lihat proses pembuatan bir, yaitu Santorini Brewing Company. Gambar labelnya menggemaskan, yaitu siluet keledai, hewan yang besar jasanya sebagai alat transportasi di Yunani.

Pabrik bir ini terletak sekitar 6 km dari kota Fira. Kami tak melihat perkebunan bahan dasar pembuatan bir di sekitarnya, seperti gandum dan barley. Pabriknya pun kecil saja, hanya seperti toko dengan tangki-tangki metal yang disambungkan selang ke botol-botol.

Mereka menyediakan tur untuk siapapun yang datang pada jam operasional. Beli atau tidak beli bir, pengunjung tetap diservis dan dijelaskan dengan ramah mengenai produksi bir mereka. Contoh berbagai tanaman bahan baku bir diperlihatkan di mangkuk-mangkuk kecil, dan kalau tak salah ingat, kami juga diberikan tester macam-macam produk mereka. Ada Red Donkey, Yellow Donkey, dan Crazy Donkey. Terus terang saya sudah nggak ingat perbedaan rasanya, mungkin karena sama seperti wine, saya pun nggak menikmati rasa bir.

Penjelasan lebih detail tentang bir Donkey bisa kamu baca di website resmi mereka, selain di blog lain yang ditulis oleh orang-orang yang sepertinya jauh lebih paham tentang bir daripada saya.

Salah satu pegawai brewery yang ramah dan minta difoto. 

Contoh bahan dasar pembuatan bir Donkey.

Pengunjung Donkey brewery dipersilakan mencoba bir gratis.

Pegawai (atau pemilik, ya?) yang menjelaskan proses brewery dari pangkal sampai ujung.


Pantai Kamari


Dari Donkey brewery, kami lanjut bermotor ria ke arah barat hingga ke Pantai Kamari. Tak banyak yang kami lakukan di situ. Mau makan, sudah kenyang. Mau berenang, airnya terlalu dingin bagi kulit tipis tropis kami ini. Walhasil, saya menggambar saja sejenak sambil duduk di batu di tengah hamparan pasir hitam. Sementara Diyan bersantai sambil mengamati tindak-tanduk para pengunjung lain. Banyak yang berjemur di pasir, di kursi pantai, dan ada anak kecil yang dadah-dadah ke pesawat yang melintasi langit Kamari, dan macam-macam lagi.

Tampaknya kehidupan pantai mulai hidup di penghujung musim semi.

Tak banyak yang bisa saya lakukan di laut dingin selain menggambar.

Kehidupan Pantai Kamari di penghujung musim semi.



Hotel di Fira


Dengan filter harga tak lebih dari 50 euro per kamar per malam, kami menyaring beberapa pilihan dari booking.com dan akhirnya memesan kamar di Sun Rise Hotel. 50 euro per malam sudah termasuk sarapan ala kadarnya (roti dan butter).

Bangunan Sun Rise Hotel ini menarik, entah apa nama gaya bangunannya, yang jelas banyak lika-likunya dan berwarna pastel dan ada kolam renangnya. Saya sempat merekam suasana hotel ini di video sekadarnya banget, silakan kalau mau lihat.

Kamarnya nyaman, berdinding ungu pastel, dan punya jendela besar serta akses ke balkon sendiri. Lumayan, bisa mengeringkan cucian di balkon, pakai tali rafia yang sengaja kami bawa dari Jakarta untuk menjemur pakaian!

Sun Rise Hotel berlokasi di luar keramaian kota Fira, tapi cuma perlu jalan kaki sekitar 3-5 menit sampai di jajaran restoran dan toko yang ramai. Begitu juga jaraknya ke terminal bus.

Sun Rise Hotel, dekat dari terminal bus dan pusat kota Fira.


Ada kolam renangnya, lho!


Kamar yang senada dengan warna bangunan.


Transportasi Fira Santorini


Kami mencapai Santorini naik Blue Star Ferry dari Athena. Saat itu (bulan Mei 2015) harganya 41 euro per orang, kelas ekonomi.
Dari Old Port Santorini ke Oia sepertinya ada banyak pilihan bus atau mobil travel, tapi saya nggak tahu harganya karena waktu itu langsung ke Oia.
Bus antar Oia dan Fira cuma 2 euro per orang. Sedangkan untuk jadwal berbagai rute bus di Santorini, bisa kamu lihat di foto di bawah ini.

Sewa motor sebenarnya 15 euro per hari. Tapi kami berhasil menawar jadi 20 euro untuk pemakaian 1,5 hari saja. Bensin kami hanya perlu beli 5 euro untuk selama itu. Kalau lebih suka naik mobil atau ATV, ada juga penyewaannya di sana.

Klik foto untuk melihat jadwal bus lebih jelas.


Old Port, Santorini.



 More photos of our excursions in and around Fira:


Gang pertokoan di Fira.
Macam-macam suvenir ala Santorini.

Ke bawah sana bisa turun tangga atau cable car.

Menjelang magrib, keledai-keledai pulang kandang.


Di depan Donkey brewery.

Daftar menu.

Kemasan yang menggoda!

Diam-diam Diyan memotret saya ketika menggambar gereja.
Anak kecil gembira melihat kapal terbang melintas.

Pantai Kamari yang mulai ramai.


Padang rumput luas membentang di Santorini.

Wish to be back in Santorini :)





16 comments:

  1. Walaupun Santorini ini termasuk "kecil" tetep aja ya pengalaman tiap orang bisa beda2 hehe. Aku waktu itu gak ke situs Akrotiri trus kok jadi pingin abis baca postmu kak :D Untung banget ya orang2nya uda evakuasi, kalau gak mungkin bisa kejadian kayak Pompeii gitu ya :(

    Kayaknya enak ya ke Greece pas ga panas2 banget jadi jalan2nya bisa lebih menyenangkan :D Yuk ke Fira lagi Vira! :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aggy, pengalaman bisa macem-macem banget, gak tergantung lokasinya ya :D
      Waktu itu malah Yunani masih agak dingin buatku, hihi.. paling pas akhir Mei/awal Juni kayaknya..
      Duh, pengen banget si Vira ini ke Fira lagiiii.. amin dulu yuk Gy.. :))

      Delete
  2. Aaah senangnya traveling berdua ke tempat romantis kek Santorini. Nyoba naek donkey gak?

    idfipancani.blogspot.co.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Idfi..
      Nggak naik donkey, euy.. Soalnya agak dilema.. gosip2nya keledai di sana agak overused gitu, jadi mending gak naik deh :')

      Delete
  3. Jadi kamu merasa senang gitu karena nama nya sama ???? hua hua

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu sih cuma sekelumit alasan, kak ;D

      Delete
  4. bagus yah kota nya....

    ReplyDelete
  5. berasa kayak ngeliat yg di film-film santorini :))
    duh kece amat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Santorini kecenya kebangetan :))

      Delete
  6. Baru kali ini denger ada nampak tempat dengan nama Fira, Santorini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, dan ternyata kota terbesar di sana :)

      Delete
  7. Hi mba vira, senangnya ktmu blog ini pas aku lg cari2 persyaratan apply visa schengen ke greece.

    Mba aku mau tanya boleh ya...
    Aku mau ke greece tapi hanya punya waktu seminggu...rencana nya ke mykonos, santorini n athens
    Menurut mba vira, worth it ga sminggu aja ke ketiga kota itu? Lebih baik spend waktu lamaan di kota yg mana?

    Oya..saya bakal terbang sendiri ke greece...sy pikir nyampe2 mau naik taxi k hotel/airbnb, pake taxi disana aman ga mba? Atau lebih baik pake shuttle bus nya airport (blm cek sih ada ngga) , mba vira dl dr airport naik apa?

    Thx uuu sblmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Shasya,
      Soal lama di mana, sebenarnya tergantung minat Mbak, dan gaya travelingnya kayak apa. Kalo senang cepat2 di suatu tempat, ya seminggu sih cukup aja.

      Kalo senang sejarah, menurut saya di Athena bisa dilamain karena banyak banget situs sejarah di situ. Dan kalo beli tiket ke Akropolis itu udah sekaligus buat beberapa situs, dan kalo ga salah tuh berlaku buat beberapa hari deh.

      Mykonos Town lebih terkenal buat party atau santai2 di taverna, tapi bisa juga nyeberang ke Pulau Delos yang sejarahnya kaya banget, tapi itu cukup 1/2 hari pp dari Mykonos. Nah, kalo Santorini, ada 2 kota utama yang rame (Fira & Oia).. Oia paling cantik menurut saya.
      O ya, kalo mau buru2, berarti dari/ke Athens mesti naik pesawat ya, jangan naik feri kayak saya :D

      Saya sempat naik taksi dari stasiun Piraeus (Athens) ke airbnb, dan dari airbnb ke airport waktu mau balik ke Jakarta, aman2 aja sih.. Tapi lupa itu taksi apa namanya, random aja. Wkt itu saya dari airport sih naik kereta ke Piraeus, karena airbnb-nya dekat situ.

      Mbak nginepnya kalo di airbnb mungkin bisa minta rekomendasi tentang transportasi ke host-nya :D

      Semoga membantu yaaa..

      Delete
  8. Aku berhenti baca sebentar pas di bagian ini.

    pria yang perawakan serta brewoknya tipikal patung Yunani ini.


    Scrol ke bawah, tapi ga nemu penampakannya.
    Kapiya, kamu kejam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bhihihikkk.. lebih asik ngebayangin, nggak sih? :P

      Alasan sebenarnya, karena gua suka gak enakan motoin orang kalo pas lagi berinteraksi dengan dia.. mau minta izin dulu, tapi dia lagi asyik nerangin dan peserta tur lainnya lagi nyimak.. Gua takut ganggu. Jadinya fotoin reruntuhan doang deh di sana :P

      Delete