Jun 20, 2017

Merayakan Hari Istimewa di Plataran Menteng


Pada tanggal 16 Juni yang baru saja lewat, saya dan Diyan merayakan ulang tahun pernikahan ke-4. Di tiga tahun sebelumnya kami merayakan hanya dengan nonton di bioskop atau makan malam berdua entah di mana, saya lupa. Entah kenapa, kali ini Diyan melontarkan ide lain. “Kita rayain di Plataran Menteng, yuk!” katanya. Sontak saya mengiyakan, karena memang sudah cukup lama ingin mencoba makan di sana.

Proses reservasi sedikit alot karena Plataran Menteng laris manis untuk acara buka puasa. Setelah mencoba dua kali, akhirnya kami dapat meja, walaupun baru bisa mulai di jam 20.30.

Plataran Menteng adalah bagian dari grup Plataran yang bergerak di bidang hospitality, mencakup restoran dan hotel. Belum satupun cabang mereka yang saya datangi sebelumnya. Yang membuat saya penasaran adalah karena bangunan Plataran Menteng ini terlihat cantik dan anggun, serta menyajikan menu makanan Indonesia. 

(Baca juga tulisan tentang restoran Indonesia favorit saya: Tugu Kunstkring Paleis


Meja di kanan itu tempat kami bersantap malam. 



Tamu-tamu di meja panjang ini salah satu sumber keberisikan malam itu.


Malam anniversary tiba. Setelah terburu-buru berdandan sederhana dengan baju baru yang sebenarnya saya beli untuk Lebaran, kemudian bersabar dengan kemacetan Jumat malam yang gila, dan harus meyakinkan staf restoran lagi bahwa kami sudah membuat reservasi, akhirnya kami duduk di meja pada jam sembilan kurang. Ruang makan utama di lantai dasar itu sedikit terlalu terang-benderang dan berisik akibat ramainya tamu dalam kelompok besar dan jarak antar meja yang kurang jauh. Taman di depan meja kami menjadi ‘studio foto’ para tamu yang kebanyakan berbalut gaun kaftan dan berdandan to the max.

Sejujurnya, saya mengira suasana Plataran Menteng akan lebih tenang, tidak seriuh ini. Namun desain interiornya memang elegan seperti yang tercitrakan dari eksteriornya. Rumah besar yang dulunya dihuni keluarga seorang dokter terkemuka di Jakarta ini bergaya kolonial Belanda dan terdiri dari tiga tingkat. Taman di tengah bangunan memberi ruang untuk pohon yang konon berusia lebih dari seratus tahun, dengan dahan-dahannya yang menjulur hingga ke tingkat tiga. Saya selalu punya hormat lebih untuk pemilik bangunan yang membiarkan pohon tumbuh seperti ini (pernah saya temukan juga di Lucky Cat Café Jakarta, Hotel Tugu Lestari Blitar, dan Le Jardin Villas Bali).

Pohon di belakang saya itu tingginya sampai lantai 3 di dalam gedung.


Saat memesan menu, kami berpikir agak lama karena banyak yang menarik dan banyak juga yang belum terbayang karena buku menu tidak disertai ilustrasi makanan. Sang pramusaji menjawab dengan sabar setiap pertanyaan kami, dan selalu melempar senyum bahkan saat saya membatalkan pesanan air mineral yang ternyata berharga Rp75.000 per botol 750 ml. Akhirnya pilihan kami jatuh pada Kerabu Pucuk Polong (sayur kecipir dengan serutan kelapa, kacang, potongan daging ayam dan telur rebus), Udang Gandum (king prawn goreng dengan bumbu gandum dan jeruk purut), Mushrooms Medley Tofu (tahu dan jamur dengan bumbu yang saya tak mengerti), dua porsi nasi putih, Lychee Iced Tea dan Fresh Juice. Tak sampai 15 menit, semua pesanan kami sudah sampai di meja. Wow, magic!

Bersantap dengan kehati-hatian ekstra karena mengenakan baju putih, saya tetap menikmati sekali kelezatan semua menu kami. Si king prawn menjadi favorit saya, karena selain saya memang sangat suka udang, bumbunya gurih, renyah, daging udangnya manis, semua dalam takaran yang pas, tak terlalu tajam. Sedangkan Diyan paling menyukai si kecipir karena rasa bumbunya paling tajam. Seperti biasanya, makan di malam setelah buka puasa membuat kami agak cepat kenyang. Maka walaupun lidah kami rasanya masih ingin terus mengecap semua menu tadi, terpaksa kami berhenti makan dan meminta pramusaji untuk membungkuskan sisa makanan yang masih sisa setengahnya. Lumayan, buat sahur, dan tidak mubazir.


Masih menunggu satu menu lagi sebelum kami mulai makan.


Seraya menenangkan perut yang kekenyangan, kami memerhatikan tamu-tamu lain yang masih sibuk berfoto grup di taman, di meja makan, dan di lobi. Keberisikan sudah berkurang karena sudah banyak meja yang kosong. Kamipun merasa sudah waktunya pulang. Namun sebelum menuju pintu keluar, kami berjalan-jalan dulu ke lantai dua.

Baru sampai lift, kami sudah terkesima karena interiornya yang bling bling. Keluar dari lift, kami disambut serambi dengan tegel bermotif klasik yang mengantarkan kami ke ruang makan dengan meja-meja panjang dan beberapa set sofa. Ruangan lantai dua ini tampak lebih mewah dan cocok untuk pertemuan-pertemuan resmi. Ada pula beberapa ruangan makan yang lebih tertutup, salah satunya dinamakan Ruang Kebaya. Sebuah ruangan di bagian depan berdindingkan kaca, sehingga jelas melihat ke jalan raya. Di siang hari ruangan itu pasti panas sekali, tapi ada tirai yang bisa ditutup untuk melawan sinar matahari. Semua ruangan, termasuk kamar kecil, didesain dengan rapi, elegan, dan banyak sentuhan tradisional Jawa atau Peranakan Cina. Elemen dekorasi banyak terdiri dari piring keramik di dinding, cermin besar dan kecil berbingkai kayu ukiran, hingga pembatas ruangan menyerupai gebyok.


Lift bling bling dan tangga yang agak tersembunyi.

Tegel yang manis.


Sebagian ruang bersofa.


Salah satu ruang makan yang tertutup.

Ladies restroom di lantai dua.

Terus terang, sulit bagi saya untuk tidak membanding-bandingkan Plataran Menteng dengan Tugu Kunstkring Paleis, restoran makanan Indonesia favorit saya yang merangkap galeri seni dan juga berlokasi di Menteng. Walaupun saya masih lebih menyukai Kunstkring karena totalitasnya dalam berbagai hal (artistik, budaya, imajinasi, dan konsep), secara keseluruhan saya cukup menyukai Plataran Menteng, terutama karena desain arsitektur dan kelezatan makanannya. 

Apakah saya akan mengulangi makan di Plataran Menteng? Kalau lagi ada rezeki nomplok, mungkin okelah. Untuk Rp400-600.000 berdua, saya masih akan berpikir-pikir lagi kalau peristiwanya tidak terlalu istimewa.


Kamu sendiri, punya restoran Indonesia yang ingin diceritakan? 




5 comments:

  1. Kamu cantik di situ. ^^
    Kalau ada rezeki baik pasti mau nyobain makan di situ.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihiy, makasih re :')
      amiiin, semoga bisa makan di sana. walaupun, untuk harga yang sama, gue lebih rekomendasikan kunstkring, sih.. hihi

      Delete
  2. aku juga anniv kemarin dinner, tapi di Tanamera, hahaha.
    lumayan enak fish & chip-nya karena kami penggemar fish & chip dan ngidam karena pas di Scotland ketemu yg enak banget. terus pas ada live music tapi yang nyanti temen sendiri, si Dwika Putra. :P

    Happy Anniversary, Vira & Diyan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, gue malah belum pernah tuh ke tanamera.
      fish & chips emang kayaknya asli sono-sono ya? dulu pernah baca novel irlandia, fish & chips melulu yang dimakan tokohnya. dan dari situ gua jadi tau chips itu bukan keripik kayak orang amerika bilang, ternyata kentang goreng alias 'french fries'. haha.

      thanks, yuki!

      Delete
    2. iyaaaa, mereka nyebutnya chips! padahal kebayangnya kita keripik, yak. iya banyak fish & chips di UK.

      Delete