Aug 24, 2017

Cerita di Balik Rawa Pening dan Jamu Sido Muncul

Beberapa bulan yang lalu, teman-teman saya piknik bareng ke Rawa Pening. Saya melihat foto-foto mereka di situ, tak menyangka ada danau indah di Kabupaten Semarang. Tapi, setelah saya baca-baca cerita mereka di kemudian hari, ternyata Rawa Pening ini bermasalah.

Rawa Pening dari kacamata teman saya, Rere


Hari Senin kemarin, saya diajak teman menghadiri acara Festival Prestasi Indonesia 2017 di Plenary Hall, JCC, Jakarta. Ajakannya cukup mendadak, tapi untungnya saya bisa sampai ke sana beberapa menit sebelum acara dimulai. Ruangan besar ini diisi deretan booth berbagai merek, berbaris-baris kursi di bagian tengah, panggung di paling ujung, dan lautan banyak manusia. Ada apa ini sebenarnya?

Jadi, Festival Prestasi Indonesia 2017 adalah acara yang diadakan oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. Dipaskan dengan angka 72 itu, mereka memilih 72 orang Indonesia yang berprestasi untuk diberikan penghargaan. Salah satu kriterianya, pernah memperoleh penghargaan atau juara tingkat nasional dan internasional. Kategori bidangnya ada 4 macam, yaitu sains dan inovasi, olahraga, seni budaya, dan kegiatan sosial.

Beberapa nama peraih penghargaan sudah familier buat saya, seperti Garin Nugroho, Rudy Hartono, Joey Alexander, dan Nano Riantiarno. Banyak nama yang saya belum pernah dengar, tapi untungnya ada buklet berisi keterangan 72 orang tersebut. Beberapa di antaranya, seorang anak jenius yang sudah lulus kuliah di usia 16 tahun dan menerbitkan buku, ada dokter bedah pendiri rumah sakit apung untuk rakyat tak mampu, serta seorang pelajar pemenang Olimpiade Robot Singapura.





Di tengah-tengah banyaknya berita buruk tentang kelakuan rakyat negeri ini, lega juga mengetahui bahwa masih banyak orang berprestasi positif mewakili Indonesia.

Bukan hanya 72 orang ini yang meniupkan kabar baik tentang Indonesia. Di sana juga hadir Sido Muncul, perusahaan jamu yang sudah berdiri sejak 1940, di booth paling dekat dengan pintu masuk. Mereka membagi-bagikan minuman jamu campur es batu. “Aaaahhh…segaaarr!” seru saya setelah mencicipi. Tapi, kok jamu bisa manis begitu? “Ini dicampur rasa jeruk, Mbak,” Mas penjaga booth menjelaskan. Oh, pantas. Ternyata namanya pun Alang Sari Sido Muncul rasa Jeruk Manis. Sensasinya persis es jeruk yang biasa dihidangkan di restoran pinggir kolam renang.

Bahwa jamu sekarang ada yang manis, itu memang kabar baik buat saya yang tak tahan rasa pahit. Tapi sebenarnya ada banyak kabar yang lebih baik dari perusahaan jamu yang awalnya tumbuh di Yogyakarta ini.







Seiring usia yang sudah matang pohon, Sido Muncul sudah banyak melakukan program sosial. Antara lain, membina masyarakat untuk membuat Desa Rempah dan Desa Wisata Buah di Kabupaten Semarang. Program Desa Rempah sudah dilakukan sejak tahun 2014 di beberapa tempat, yaitu Desa Bergas Kidul, Diwak, Gondoriyo, Kelurahan Karangjati, Ngempon, dan Klepu. Yang ditanam adalah jahe, kunyit, kayu manis, daun katuk, dan banyak lagi. Hasilnya bisa digunakan masyarakat atau bahkan dijual ke Sido Muncul untuk diolah menjadi jamu.

Sedangkan Desa Wisata Buah baru berlangsung hampir dua tahun, di Desa Diwak dan Bergas Kidul yang letaknya di kawasan pabrik Sido Muncul. Program ini lebih ditargetkan untuk menjadi daya tarik wisata yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan buah-buah seperti durian dan alpukat. Letak desa-desa ini pun strategis, karena memiliki jalur lintas strategis wisata. Desa Bergas Kidul di jalur lintas menuju Candi Gedong Songo, dan Desa Diwak tak jauh dari pemandian air hangat di Dusun Kalisori.

Selain sosial, program-program mereka kreatif juga, ya.

Lalu, kamu tahu CSR berupa ‘mudik gratis’ dari berbagai perusahaan belakangan ini? Ternyata Sido Muncul adalah salah satu perintis kegiatan itu. Mereka sudah mengadakan mudik gratis bagi para penjaja jamu sejak tahun 1991! Wow. Sedangkan di dunia pariwisata, mereka membantu meningkatkan pariwisata Indonesia lewat besutan iklan Kuku Bima, yang dibintangi Shanty, dengan macam-macam latar keindahan alam Indonesia. Hm, iya juga, ya. Ada banyak cara untuk pihak swasta ikut meningkatkan pariwisata negeri.







Di panel paling ujung terpampang foto danau yang besar, dengan tulisan “Rawa Pening” di atasnya. Nah, ini dia, danau yang pernah dikunjungi teman-teman saya. Obrol punya obrol, ternyata Rawa Pening sedang dijadikan proyek pelestarian lingkungan oleh Sido Muncul. Masalah yang dihadapi danau ini bersumber dari tanaman eceng gondok yang seenaknya tumbuh liar dan semakin menjajah danau.

Menurut Pak Irwan Hidayat, Direktur PT Sido Muncul Tbk, danau Rawa Pening harus dibersihkan dari eceng gondok agar tetap indah dan potensi wisatanya bisa dioptimalkan. Masyarakat bisa mendapatkan penghasilan dari pariwisata di sekitar Rawa Pening, sehingga tak perlu lagi meladang di lereng gunung sekitar danau. Sekarang ini, sisa-sisa tanah cangkulan dari lereng banyak yang terbawa air hujan ke dalam Rawa Pening, sehingga menimbulkan sedimentasi yang berakibat pada pendangkalan danau. Kalau danau semakin dangkal, bisa habis lama-lama sumber air di situ. Kerugian yang dialami masyarakat sekitar jadi berlipat ganda.

Untuk sekarang, daun dan batang eceng gondok sudah dimanfaatkan untuk dijadikan produk-produk seperti tas dan aksesori, dibuat oleh masyarakat sekitar. “Tapi semuanya mesti diangkat, karena kalau cuma diambil daun dan batangnya, tunasnya masih akan tumbuh lagi,” ucap Pak Irwan.





Eceng gondok ini agak seperti kelapa, menurut saya. Ya, karena semua bagian tanamannya bisa dimanfaatkan. Sido Muncul juga sudah mulai memanfaatkan eceng gondok sampai ke akar-akarnya, untuk dijadikan bahan bakar arang. “Sekarang kami menggunakan 50% bahan bakar dari limbah pabrik dan 50% gas. Nantinya gas akan digantikan dengan bahan bakar yang diolah dari eceng gondok,” Pak Irwan menyatakan rencananya. Mereka membeli mesin khusus untuk mengolah eceng gondok, dan terbuka untuk siapapun yang ingin mempelajarinya.

Canggih juga, ya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan membersihkan eceng gondok, danau jadi bersih dan bisa dikembangkan untuk wisata, limbahnya pun bermanfaat sebagai bahan bakar untuk pabrik, dan siapapun masyarakat yang ingin berpartisipasi bisa mendapatkan keuntungan. Eceng gondok sudah menjadi masalah serupa di beberapa daerah lain. Semoga nantinya tempat-tempat lain pun bisa meniru apa yang dilakukan di Rawa Pening ini.



Lalu, kenapa Sido Muncul berada di acara Festival Prestasi Indonesia 2017?

Mereka memang diundang ke sana karena dinilai sudah memberikan banyak kontribusi terhadap masyarakat, contohnya hal-hal yang saya sebutkan di atas. Dan saya sempat mendengar jawaban Pak Irwan saat diwawancarai wartawan tentang amalan Pancasila. Buatnya, mengamalkan Pancasila, ya, harus dalam bentuk nyata. Saya setuju, karena apalah faedahnya Pancasila jika hanya dihafalkan sampai ke butir-butirnya. Mempraktikkan sila-sila dan butir-butirnya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih penting.

Dan tentunya, akhirnya saya berharap agar Rawa Pening akan segera bersih. Semoga saya, dan banyak orang lainnya, termasuk kamu, nanti ada kesempatan untuk ke sana, menikmati keindahan alam Rawa Pening.






4 comments:

  1. Kapan-kapan kita ke Rawa Penibmng yuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk.. biar gak pening di jakarta melulu ya mbak :P

      Delete
  2. pas denger cerita Rawa Pening saat pergi ke sana, aku langsung pengen bikin tas dari eceng gondok yang banyaaaakkkk sekali kemudian di ekpor, laku kali ya? Sekarang kan lagi ngetrend banget tas dari rotan, mestinya eceng gondok juga bisa

    Bisa ga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisaaaa mestinya. ayo bikin business plan-nyaaa :D

      Delete