Feb 13, 2018

Biara-Biara yang Menggantung di Langit Meteora




Lewat tengah hari kereta yang kami tumpangi dari Litochoro sampai di Kalabaka. Setelah menaruh tas di penginapan, kami berniat langsung jalan-jalan melihat formasi bebatuan Meteora. Tapi begitu saya membuka pintu balkon kamar, oh my! Tatapan mata langsung beradu dengan tebing batu yang megah. Maka kami putuskan untuk bersantai di balkon sambil menikmati pemandangan ini.

Majestic, ya. Kayak di Lembah Harau,” seloroh Diyan.

Duh! Sudah jauh-jauh ke Yunani, masa’ pemandangannya disamakan dengan Lembah Harau di Sumatera Barat? Tapi, ya, memang mirip, sih. Waktu di Lembah Harau pun penginapan kami berlatarkan tebing prasejarah seperti ini. Hanya, Meteora ini formasi batunya lebih megah, areanya lebih luas, dan menyangga biara-biara yang sudah berusia sekitar 7 abad.


Sunset Rock Meteora


Tujuan pertama kami setelah puas bermalas-malasan di balkon kamar adalah Sunset Rock. Dengan motor sewaan yang diantarkan ke hotel, kami ngegas ke titik pandang yang mainstream ini. Ngegas bukan seperti orang marah, tapi memang tempat ini elevasinya cukup tinggi. Saat kami sampai, sudah ada beberapa orang turis sedang berfoto dan duduk-duduk di sana. Padahal, waktu itu masih beberapa jam menuju waktu matahari terbenam.

Sore itu langit agak kelabu. Namun pemandangan Meteora indahnya bukan main. Terhampar susunan tebing batu alami yang mencuat dari tanah setinggi hingga 400 meter, berselang-seling dengan pepohonan lebat dan biara di atas tebing, berlatarkan pegunungan. Lucunya, sebagian tebing yang lonjong dan panjang mengingatkan saya pada se’i, daging asap khas Kupang, yang belum diiris. Padahal saya tidak sedang lapar waktu itu.

Langit semakin kelabu dan cuaca terasa makin dingin. Matahari akhirnya terbenam, tapi sayangnya awan kelabu menggagalkan pemandangan yang dramatis di hari itu. Di hari berikutnya kami ke sana lagi, tapi nasib lebih buruk: hujan sejak sore hari.


Menyapa Meteora.


Rasanya nggak mungkin nggak mengeluarkan kamera di Sunset Rock.

Setelah puas berfoto, duduk santai menikmati pemandangan sambil ngobrol.

Tebing Batu Meteora


Para ahli geologi memperkirakan formasi tebing batu Meteora mulai terbentuk sejak 60 juta tahun yang lalu. Bentuknya yang unik diakibatkan oleh rangkaian gempa, bajir, dan terpaan angin. Di abad ke-11, mulailah para pertapa berdiam di sana, menempati gua-gua yang terkikis di dinding-dinding tebing batu.

Salah satu gua yang tertangkap oleh lensa kamera saya digantungi kain-kain berwarna-warni. Tadinya saya kira ini jemuran, tapi siapa pula yang iseng menjemur baju di gua dengan ketinggian 40 meter? Ternyata, gua ini tempat bertapa St. George the Mandilas. Legendanya adalah, St. George konon membantu seorang pria Muslim yang terluka berat saat menebang kayu di dekat pertapaannya. Untuk membalas budi, istri dari sang pria hanya bisa memberikan kerudung padanya, yaitu satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Maka, setiap tahun di tanggal 23 April, warga Kastraki memperingati hari St. George dengan mengutus anak-anak muda memanjat ke gua tersebut (merekalah yang disebut ‘mandilas’) hanya menggunakan tali dan menggantungkan kain-kain berwarna-warni. Gua ini letaknya tak jauh di utara biara Meteoro.

Untuk kamu yang suka memanjat tebing, bisa menyalurkan hobi tersebut di Meteora. Begitu juga dengan hiking dan trekking. Namun sebaiknya lakukan dengan pemandu karena minimnya penunjuk arah yang jelas.

(Baca juga kisah kami trekking di Samaria Gorge, Gunung Olympus, dan Santorini).

Tebing-tebing berbentuk se'i.

Gua tempat St. George bertapa.

Tebing batu menjadi latar kota Kalampaka.


Biara-Biara Meteora


Tebing-tebing batu Meteora memang spektakuler. Tapi ada yang lebih spektakuler lagi, yaitu biara-biara yang didirikan di atas tebing-tebing itu sejak abad ke-14 hanya dengan peralatan seadanya! Hanya tangga yang dipindah-pindahkan dan tali pengerek ember. Tangga yang ada sekarang baru mulai dibuat sejak tahun 1920-an. Biara-biara yang seolah “menggantung di udara” ini, seperti arti dari kata “meteora”, didirikan karena para pertapa merasa terancam dengan serangan dari bangsa Turki di bawah kuasa kekaisaran Bizantium. Maka mereka membangun biara yang sulit dicapai musuh agar bisa hidup dan beribadah dengan aman.

Sepertinya sakti sekali para pendeta Orthodox ini. Bayangkan. Dengan peralatan yang jauh lebih sederhana daripada pembangunan jembatan LRT yang belum selesai saja sudah ambruk, mereka bisa membangun 24 biara! Ya, walaupun, hingga kini hanya enam yang tersisa dan terbuka untuk turis. Keenam biara itu adalah Megalo Meteoro (The Great Meteoron), Varlaam, Roussanou, Agios Nikolaos Anapafsas, Agios Stefanos, dan Agiatrias (Holy Trinity).

Dari semua biara, hanya beberapa yang sempat kami kunjungi, yaitu Meteoro, Varlaam, dan Stefanos. Meteoro adalah biara terbesar dan tertua di kompleks Meteora monasteries. Tak heran bahwa biara ini paling ramai turis serta biarawan dan biarawati yang datang dari daerah lain. Saya takjub kala itu melihat barisan biarawati yang sudah tua masih sigap naik turun tangga demi mencapai Meteoro untuk kunjungan ibadah. Beberapa orang dari mereka menolak untuk difoto saat saya minta izin. Ya sudah, saya foto dari jauh saja, tidak kentara wajahnya. 

Sebagian ruangan Great Meteoro dijadikan museum, yang memamerkan peralatan dapur, perlengkapan pembuatan anggur, serta jajaran tengkorak para biarawan yang pernah tinggal di sana. Dari salah satu sudut Meteoro terlihat jelas Varlaam di seberang lembah, juga bertengger di atas tebing tinggi.

(Baca juga: itinerary sebulan di Yunani).


The Great Meteoro. Biara terbesar dan tertua di Meteora.

Meteora juga menjadi destinasi wisata religi.
Bagian tengah Meteoro.


Agios Stefanos atau St. Stephen’s Monastery terletak paling jauh dari Kastraki tapi lebih mudah dicapai karena pintu masuknya berada di dekat tempat parkir, tidak perlu naik tangga seperti Meteoro. Biara ini didirikan pada abad ke-15 atau 16 dan didedikasikan untuk biarawati. Dulunya perempuan tidak boleh masuk ke biara-biara Meteora. Peraturan berubah sejak tahun 1920 ketika para perempuan warga desa sekitar membantu memadamkan kebakaran di salah satu biara.

Sedangkan Agios Nikolaos masih sepi ketika kami datangi di pagi hari. Cukup berjalan kaki karena letaknya hanya 400 meter dari guesthouse, tapi capek juga karena jalannya menanjak. Lalu naik ke biaranya pun kami harus naik tangga lagi. Ada lift sederhana di sana, yang terkesan ringkih karena tali kereknya terpapar jelas, tapi hanya boleh digunakan untuk keperluan biara dan pengunjung yang sudah tua.

Seharusnya kami juga ke Roussanou. Apa boleh buat, kami keasyikan menikmati pemandangan di salah satu viewing point, sehingga telat beberapa menit saja ke Roussanou. Informasi yang kami dapatkan dari peta wisata adalah biara ini tutup jam 17.45. Kenyataannya, ketika kami tiba pukul 17.00, gerbang sudah ditutup. Oh, sedihnya! Apalagi itu adalah hari terakhir kami di Meteora.

(Baca juga: Kisah patah hati lainnya, di Bagan.)


Berbantal batu, berkasur rumput kering, berpemandangan Agios Stefanos.

Agios Nikolaos dan liftnya di saat hujan.
Hanya bisa memandangi Rossanou dari balik pagar. Hiks.


Kenapa ke Meteora?


Meteora mungkin tidak sepopuler pulau Santorini atau Athena sebagai tempat wisata, tapi ia memiliki daya tarik yang berbeda dan sulit untuk dibandingkan. Ketika mengetahuinya dari blog Kak Febi pada tahun 2014, kami langsung memasukkannya ke daftar destinasi trip Yunani. Ketika melihatnya langsung, benar-benar berada di sana, rasanya kemampuan saya berkata-kata atau menulis tak sanggup menceritakan dengan adil tentang keindahan, kemegahan, dan ketentraman Meteora. Jika kamu punya kesempatan ke Yunani, saya sangat menyarankan untuk ke Meteora karena ini adalah destinasi yang sangat langka sekaligus menakjubkan.

Walaupun sunset kelabu, tetap senang melihat pemandangan epic Meteora.
Barisan biarawati sehabis ibadah menuruni Meteoro.

Sketching di balkon kamar.


Travel Info Meteora


Transportasi ke Meteora yang saya gunakan adalah kereta dari Litochoro ke Kalampaka, transit di Paleofarsala, total durasi 2-3 jam. Dari stasiun Kalampaka naik taksi menuju hotel di Kastraki, pinggiran kota yang terdekat dari Meteora. Dari Meteora kami menuju ke Athena dengan kereta selama 5 jam.
Selama di Kalampaka dan Meteora, kami menyewa motor dengan harga 20 euro / hari, bensin sekitar 5 euro / hari. 
Tersedia bus wisata dari Kalampaka untuk keliling Meteora dan berhenti di semua biara. Namun saya lupa jadwal dan harganya. yang jelas, rute bus ini melewati Guesthouse Papastathis.

Tiket masuk Meteoro 3 euro per orang, sudah termasuk Agios Stefanos. Sedangkan masuk ke Agios Nikolaos kami tidak diminta membayar sepeserpun.

Entah mengapa, pengunjung perempuan diminta memakai kain lilit atau rok panjang yang sudah disediakan. Padahal saya mengenakan celana panjang ke semua biara itu. Baju atasan saya cukup tertutup karena mengenakan jaket, dan tidak diminta melapisinya dengan kain mereka lagi. Sedangkan Diyan tidak perlu memakai kain tambahan.

Akomodasi banyak tersedia di Kalampaka dan Kastraki. Tempat kami menginap adalah Guesthouse Papastathis di Kastraki, 50 euro / malam. 
Tempat makan tersedia di sekitar penginapan, tapi kami lebih suka jajan di Kalampaka. Dari cemilan loukumedes hingga gyros dan pasta banyak pilihannya di downtown.

Untuk info budget yang lebih lengkap selama kami di Yunani, lihat di sini.

Downtown Kalabaka saat hujan. Lihat gunung batu di belakang sana?

Pemandangan dari balkon kamar kami.

Loukoumades, salah satu cemilan Yunani yang saya suka. Baca juga tentang makanan lainnya di sini.

Ngobrol dulu sebelum/sesudah beribadah di Meteoro.

Beginilah gambaran tingginya Meteoro. Olahraga banget untuk sampai ke atas.
Memakai kain yang disediakan untuk pengunjung perempuan.
Ketika jalan-jalan acak di kotal Kalabaka.

Kereta dari Paleofarsala ke Kalabaka.


Baca buku dan sketching Agios Stefanos. Ini yang bikin kami telat ke Roussanou.

Bagian dalam Agios Stefanos. Cantik, ya!

Jalanan Meteora yang rata-rata sepi begini.

Walaupun dijuluki Sunset Rock, konon sunrise pun bagus di sini.

Sampai jumpa di destinasi berikutnya!






6 comments:

  1. OMAIGAT KAAKK KEREN AMAAATT ajakin aku doong kalo mau ke Meteora lagi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi... tinggal beli tiket aja kak!
      (((tinggal)))

      Delete
  2. Liat tulisan ini malah jadi pengen ke Yunani dan ke sini. btw, hahaha kak diyaaaan lembah harau dooong..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kzl nggak siiiihhh, harauuu? :)))
      iyes, rasanya sih lo bakal suka Meteora.

      Delete
  3. Aku suka banget biara-biara tua kaya gini.. Ngga di Eropa, di Nepal, di Tibet, di Indonesia... ketenangannya itu nggak tertandingi. Sama lokasinya juga pasti punya pemandangan indah, seperti di Meteora ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. kayaknya memang sengaja ya mereka bangun biara di tempat-tempat tenang begini, supaya ibadahnya bisa khusyuk.

      Delete